Makassar 2030

2 years ago Tausiyah

Sebuah cerpen menggugah jiwa, semoga tidak terjadi
 

Pantai Losari, 31 desember 2030

Antusias masyarakat menyambut tahun  baru kali ini begitu besar. Pantai Losari yang dikenal sebagai pantai terindah di dunia dengan sunsetnya sejak sore telah dipenuhi pengunjung yang akan menyaksikan pergantian tahun kali ini. Kalau tiga puluh tahun yang lalu negri Thailand mencetak rekor ciuman terlama dan terbanyak pada kekasih  maka pada tahun ini Makassar akan memecahkan rekor sebagai kota yang melakukan pelukan dan ciuman terlama pada sang kekasih dalam rangka penyambutan tahun baru.

Pagelaran iblis ini akan dilaksanakan tepat pukul 24.00. disana- sini terdengar hingar-bingar musik memekakkan telinga. Laki-laki dan perempuan bercampur baur menjadi satu larut dalam maksiat. Menjelang pukul 23.00 semua musik berhenti, lampu padam. Para pengunjung yang tadinya mabuk dalam tarian dan goyangan laknat sontak berhenti. Lampu sorot berkekuatan 10.000 watt menyorot bagian paling atas gedung pencakar langit tertinggi kedua di dunia. Gedung yang berdiri kokoh diatas pulau khayangan ini menjadi salah satu ajang atraksi penyambutan tahun baru. Pulau khayangan semakin dekat kebibir Losari.  Losari telah mengalami beberapa kali pelebaran meniru apa yang dilakukan di Belanda. Lampu sorot masih tertuju kepuncak menara kebanggaan orang Makassar ini. Sesosok makhluk tampil dipuncaknya.

Jika tiga puluh tahun yang lalu terkenal Jackie Chan sebagai aktor terberani di dunia maka pada masa ini yang telah mendapat pengakuan dunia adalah Daeng Kulle. Seorang aktor yang tak kenal takut  berasal dari daerah selatan Sulawesi tepatnya Jeneponto.

Kali ini Daeng Kulle akan memperlihatkan kebolehan dan keberaniannya terjun dari puncak menara  tiga ratus lantai itu tepat pukul 24.00. lampu sorot masih tertuju kepuncaknya, sorak penonton yang ada di bibir Losari semakin riuh. Ombak sesekali memecah pantai. Jalan nusantara yang sejak dulu terkenal sebagai pusat prostitusi terbesar di Makassar telah sarat dengan poarade manusia telanjang. Benar- benar edan zaman ini, gumamku dalam hati.

Sebagai wartawan sebuah media Islam saya hanya bisa mengelus dada, pasrah menyaksikan keadaan ini. Bila di masa kakekku aparat pemerintah, pejabat, serta tokoh masyarakat  menyambut tahun baru dengan tabligh akbar dan zikir bersama di masjid-masjid sekarang tidak lagi. Mereka bahkan menjadi penyulut pesta iblis itu.

Aku harus pulang, sudah ada berita yang dapat kutulis pada koran harian tempatku mencari nafkah untuk istri dan anak- anakku. Jangkar nama mediaku. Dia telah menjadi oase di tengah keringnya watak bangsaku dari moral dan etika. Telah menjadi cahaya di tengah gelapnya maksiat yang menyelimutinya.

Tiga puluh menit dari pukul 24.00 kulangkahkan kaki dari pesta terkutuk ini.

Sebelumnya kusempatkan diri menengok ombak losari. Salah satu tempat yang mebuatku selalu rindu dengan Sulawesi ketika sedang menuntut ilmu di negeri nabi Musa. Tempat yang penuh kenangan, kenangan masa muda ketika  bersama teman menikmati pisang epe sambil menatap tenggelamnnya sang surya.

Saya kaget bercampur takut. Ingatanku spontan tertuju kerumah. Teringat  istri dan anak-anakku. Bagaimana keadaan mereka sekarang.

Air Losari surut sejauh mata memandang.

Mungkin ini gejala tsunami, tapi mengapa tak ada gempa sebelumnnya? Bukankah   tsunami yang datang akan didahului oleh gempa dulu.

Tsunami pasti datang. Tidak ada yang mustahil bila Allah menghendaki sesuatu. Jelasnya saya harus berlari sekuat tenaga mencari tempat yang tinggi. Aku berlari sambil menjerit bahwa tsunami akan datang. Tak ada yang menghiraukanku, mereka bahkan mengejekku dengan mengatakan saya gila.

Andaikan tsunami betul- betul datang sudah pasti mereka meninggal dengan suul khatimah. Alangkah kasihan mereka, orang yang meninggal karena tenggelam kata rasulullah dianggap sebagai syahid tapi mungkinkah mereka syahid bila pil- pil iblis telah memenuhi urat syarafnya.

Sebagian besar diantara mereka adalah orang intelek namun telah diperbudak oleh hawa nafsunya. Mengapa tak ada yang sadar bahwa tsunami akan menerjang. Sambil berlari aku terus menghubungi rumah lewat HP bututku untuk memberi peringatan keluargaku akan bahaya yang mengancam. Tidak bisa tersambung. Mudah- mudahan saja mereka selamat. Kalaupun tidak mudah- mudahan mereka syahid. Andaikan jalan tidak macet tidak perlu saya berlari seperti ini. Cukup dengan taxi saya sudah bisa sampai ke masjid raya Makassar dengan cepat,tujuanku menyelamatkan diri. Saya masih tetap berlari sambil berteriak walaupun banyak yang tidak percaya dengan teriakanku tapi ada juga diantara mereka mengikutiku.

Kupandangi Makassar dari menara masjid raya. Semuanya tergenang air laut  berwarna hitam. Menara kebanggaan  itu juga tak terlihat. Bagaimana dengan Daeng Kulle, saudara sepupuku?

Inilah peringatan Allah.

 

Makassar, 2 januari 2031

"Korban tsunami berjumlah 500.000 orang"

Demikian kutulis di halaman pertama harian Jangkar.

 

 

 

Kutulis di Tonronge, 2005.

Beberapa bulan setelah Aceh tenggelam, sesaat setelah menatap tower kebanggaan negeri Dubai di sebuah majalah berbahasa Arab.

Ahsanur Ahmad

Terkait