Emang Enak di Cuekin....?

7 years ago Tausiyah

 

“Ya Rasulullah, izinkan saya mencabut semua gignya,” tiba-tiba Umar emosi tak tertahankan. Sudah sepantasnya bajingan itu dihabisi. Hati kaum muslimin sudah lama tersakiti karenanya. Setiap hari ia menyebar fitnah dan berita bohong tentang dakwah Rasulullah. Ia bercerita ke barat dan timur mengajak manusia ragu dan menolak dakwah sang Rasul. Ia mengompori orang-orang agar jamaah baru yang dibina rasulullah hancur segera. Entah apa yang ada dihatinya. 

Rasul berdakwah dan menyeru manusia pada Allah, menyeru agar mempersiapkan diri menghadapi kematian. Mengajak dan mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini sangat singkat. Hidup sesungguhnya adalah di akhirat nanti. Tidak ada yang salah dengan dakwah rasul. Tidak ada yang sesat dari dakwah ini, Tapi tetap saja ia membenci dan selalu menceritakan kejelekan Rasulullah dan para sahabatnya. Dia sendiri tidak pernah menemui Rasulullah dan berdialog langsung dengannya. Ia hanya menyimpan prasangka buruk dan tidak pernah mau bertanya langsung pada sang Rasul. Akhirnya kebenciannya makin menjadi-jadi. 

Wajar akhirnya jika Umar meminta izin menghabisi giginya agar berhenti memprovokasi orang-orang membenci jamaah dakwah Rasulullah.
“Biarkan saja dia, suatu saat nanti engkau akan sangat gembira dengannya”. Inilah jawaban Rasulullah pada Umar saat Itu. 

Pada perjanjian Hudaibiyah bajingan ini tampil lagi sebagai tokoh penentang kebenaran. Ia mewaklili kaum kafir Quraiys sebgai wakil perundingan. Lagi-lagi Umar marah, ia kecewa berat kepada Rasulullah. Goncang tsiqohnya pada sang nabi. 

“Agama kita benar, kita kan umat yang dipilih Allah? Mengapa Rasulullah harus mengalah pada perjanjian yang tidak menguntungkan ini?” itu protesnya yang disampaikan pada Abu Bakar.
Kafir Quraisy pada perjanjian itu diwakili tukang fitnah ini, mereka menang dan diuntungkan. 

Rasulullah mengalah, tapi Allah justru memuji sikap Rasul dan mengatakan bahwa kemenangan besar telah terbuka untukmu. Fathan Mubinan kata Allah di surat al Fath. 

Terkadang memang kita harus mengalah dalam perjuangan dakwah ini. Mengalah bukan berarti kalah, tapi mengalah karena ada kemenangan besar yang sedang kita siapakan. Perkara-perkara seperti ini hanya bisa dimerngerti oleh mereka yang tidak sempit hati dan fikirannya.

Tukang fitnah tadi akhirnya masuk Islam pada Fathu Makkah 8 H. Perkataan nabi pada Umar betul terbukti, Ia pun berubah menjadi sahabat yang sangat mulia. Ia menjadi sangat pemurah, banyak salat dan berpuasa, ia perkasa dan gagah berani dalam pertempuran. 

Saat semua jazirah Arab murtad sebab Rasulullah meninggal beliaulah yang berdiri dengan gagah di depan penduduk Mekah. Ia Berorasi dengan penuh semangat, berkata kepada seluruh penduduk Mekah, "jangan sampai kalian yang paling pertama kafir padahal kalian yang paling terakhir masuk Islam."

Perang Yarmuk tahun 15 H menjadi pintu baginya untuk masuk surga. Ia syahid, bertiga bersama Harits bin Hisyam dan Ikrimah bin Abu Jahal. Saat itu mereka didera kehausan yang sangat. Sahabat membawakan air minum pada Ikrimah, Ikrimah berkata berikan dulu padanya, sebenarnya ia sangat haus, ingin sekali ia minum tapi dilihat disisinya Al harits juga kehausan, ia berkata, berikan dulu pada Al harits. Al harits menolak dan berkata padanya, berikan Ikrimah dulu. Saat akan diberi pada Ikrimah ternyata ia telah syahid, begitu pula ia dan al Harits. Mereka bertiga syahid dan ajaran tentang itsar yang ia dapatkan dari tarbiyah Rasulullah benar-benar diamalkan. 

Suatu hari dia dan Muawiyah bin Abi Sufyan ra. berdiri di depan pintu Umar bin Khattab. Selaku pemimpin Negara Madinah wajarlah jika Umar ramai dikunjungi oleh rakyatnya. 

Ia dan Muawiayah sudah lama sekali berdiri di depan pintu. Ia menunggu dipersilahkan masuk. Tiba-tiba datang Bilal sang budak yang hitam legam. Ia langsung dipersilahkan masuk oleh Umar.
Muawiyah pun kesal dan marah. Mengapa kita yang sudah tua seperti ini di biarkan menunggu sedangkan anak kecil tadi bisa langsung masuk. Jengkel dia pada Umar yang saat itu menjadi amirul mukminin. 

Ia hanya tersenyum-senyum melihat Muawiyah marah-marah, ia berkata padanya, “tidak usah marah-marah seperti itu wahai sahabatku, dulu Islam ditawarkan pada kita. Kita tolak mentah-mentah, bahkan kita yang jadi penyebar fitnah menjelek-jelekkannya. Mereka dipersilahkan langsung masuk sebab mereka langsung masuk Islam saat Islam ditawarkan pada mereka, jika Umar saja sudah seperti itu perlakuaannya pada kita, bagaimana nanti perlakuan Allah?”

Betul sekali perkataanmu duhai sahabat yang mulia. Kalian berdua memang akhirnya masuk surga seperti janji Allah dalam Al Quran. Tapi di ayat lain Allah mengatakan bahwa tidak sama pahalanya orang yang masuk Islam sebelum fathu Makkah lalu berjihad dan menginfakkan hartanya untuk Islam.

Dan kita, diberi kesempatan untuk memilih dari saat ini. Apakah ingin menjadi Suhail bin Amru yang diceritakan di atas atau ingin menjadi seperti Bilal. Jika ingin menjadi seperti Bilal bersegeralah menerima dakwah dan kebaikan yang ditawarkan padamu. Kita sering menolak ajakan-ajakan berbuat baik dan beramal untuk Islam dengan alasan tidak jelas. Sering kita menunda lama meneriman ajakan itu bahkan kita sampai menyebar fitnah dan isu-isu miring tentang kebaikan yang ditawarkan. Bercerita diam-diam pada orang lain agar sama-sama menolak dan membenci kebaikan dan kebenaran itu. Syukur jika nanti akhirnya kita mendapat hidayah dan bertaubat. Jika tidak?

Segeralah, karena saya yakin Anda adalah orang yang tidak mau dicuekin Allah di akhirat nanti.


Ditulis oleh: Ahsanur Ahmad, Lc

Terkait