Mati.....

3 years ago Tausiyah

 

Hasan Al Banna memang tidak banyak menulis buku. Saya sibuk mencetak manusia, katanya saat ditanyai alasannya.

Hasan Al Banna hampir tak punya waktu untuk duduk berlama menulis dan menghasilkan berjilid-dilid buku. Ia lebih sibuk keluar masuk kampung Mesir mencari anak manusia yang siap mengembang dakwah Islam untuk disebarkan kepada seluruh penduduk dunia. Robert Jackson yang menulis buku tentangnya berkata bahwa selama hidupnya Hasan Al Banna mengunjungi kurang lebih empat ribu kampung dan daerah yang ada di Mesir. Tujuannya satu. Dakwah dan mencari kader yang siap jadi batu bata proyek kebangkitan islam yang terus membuatnya tak nyeyak tidur.

Khalid Muhammad Khalid, seorang penulis besar Mesir bercerita tentang aktifitas dan kesibukan beliau,” Suatu hari saya berziarah kerumah pamanku yang menjadi penanggung jawab sekolah tempat Hasan Al Banna mengajar. Saya bercerita padanya bahwa Al Banna terlalu sibuk berdakwah. Kesungguhannya yang luar bisasa dan terus menerus membuatnya tidak punya waktu untuk tidur dan istirahat. Ia mengunjungi ujung timur hingga barat Mesir. Dari Aswan hingga Arisy sebagai dai, guru dan Mursyid.”

Paman Khalid pun berkata, ”Meski demikian dia tidak pernah terlambat sehari pun untuk melaksanakan tugasnya sebagai guru. Bahkan sering sekali dia datang di waktu subuh. Ia ketuk pintu gerbang sekolah dan penjaga pintu pun tahu bahwa itu dia. Beliau masuk dan salat subuh disekolah. Setelah itu ia tidur di ruang guru di atas bangku. Kepalanya direbahkan di atas bantal kecil dengan beralaskan kain tipis. Sebelum tidur ia pesan pada penjaga pintu agar membangunkan sebelum waktu mengajar di mulai. Bangun dari tidurnya ia salat duha dan memulai tugasnya sebagai seorang guru.”

Demikianlah Hasan Al Banna, ia tidak menjadikan dakwah sebagai alasan untuk lalai dari tugasnya hingga ia rela tidur di sekolah. Kesibukannya mengunjungi daerah-daerah di Mesir membuatnya harus seperti itu. Dia tidak pulang kerumah untuk istirahat setelah itu meminta izin pada sekolah bahwa tidak sempat masuk sebab lelah sehabis melakukan perjalanan jauh.

Demikianlah Hasan Al Banna, ia yang pernah berkata bahwa seharusnyalah seorang kader dakwah Ikhwanul Muslimin menjadi orang yang sibuk. Sebab tidak mungkin menghasilkan apa-apa kecuali orang yang sibuk. La yuntij illa rajulun masygulun, katanya pada seorang stafnya yang meminta cuti dari tugas dakwah.

Dialah yang berkata ,”yang lebih dibutuhkan dari setiap kader adalah kerja di banding kampanye. Kampanye tanpa kerja bisa diselubungi ria dan ingin di puji. Karena kita lebih mementingkan kerja maka sangat sedikit yang tahu bahwa bahwa kader ikhwan adalah orang yang di Kamis sore sehabis salat Asar pulang dari kantornya di Kairo. Pada malam hari  sudah berada di Al Minya untuk mengisi pengajian sehabis Isya. Besoknya dia berada di Manfaluth untuk menyampaikan khutbah Jumat. Pada salat Ashar berada di Asyut mengisi ceramah. Setelah salat Isya menyampaikan pengajian di Sohag. Dan besoknya di hari sabtu dialah yang paling pertama datang di kantornya di Kairo medahului kawan-kawan seprofesinya yang lain.”

Lihatlah bagaimana Hasan Al Banna menggambarkan mobilitas seorang dai. Tempat yang disebutkannyan di atas adalah daerah yang berjauhan satu sama lain. Jarak dari Kairo ke Al Minya adalah 187 Km. jarak antara Al minya dan Manfaluth adalah 119 Km. jarak manfaluth dan asyuth adalah 12 km. dan jarak antara asyuth dan sohag adalah 74 Km . adapun jarak antara sohag dengan kairo adalah 392 km.

Begitulah dai seharusnya. Demikianlah aktivis Islam semestinya. Dan Hasan Al Banna sebelum mengatakan itu telah mencontohkannya dengan amal yang nyata. Inilah yang membuatnya tak punya banyak waktu untuk merenung dan berfikir di depan meja lalu menulis buku sebanyak-banyaknya.

Walau demikian Hasan Al Banna tetap menulis. Ia sadar bahwa tulisanlah satu-satunya cara agar pemikirannya bisa abadi dalam sejarah. Al Quran contohnya, terlepas dari jaminan Allah untuk menjaganya tidak ada yang bisa memungkiri bahwa sebab ia ditulis sehingga ia abadi. Demikian juga hadis kerena ia ditulis dan di bukukan hingga sampai hari ini kita bisa membacanya. Dan ratusan mazhab yang pernah ada itu hanya yang punya tulisannlah yang bertahan hingga kini. Maka sumpah yang Allah sebutkan pertama kali dalam Al quran adalah demi pena.

Dan Hasan Al banna tetap menulis sebab ia tahu usia manusia terlalu singkat. Dan yang membuatnya panjang adalah karya. Termasuk di dalamnya tulisan. Setengah abad lebih sudah jasadnya ditimbun tanah tapi ia masih tetap mengajar lewat Majmuaturrasail. Bahkan dari sebuah  pembahasan majmuaturrasalil ini Yusuf al Qardawi menyampaikan ceramah yang panjang berpuluh-puluh jam. Lama sudah ia pergi tapi ia terus membimbing lewat tafsir-tafsir yang ia tulis di berbagai majalah dan Koran.

Maka saya sangat sepakat dengan apa yang pernah dikatakan Mayyadah, “Meski seribu kali kau berfikir, sejuta kali kau membaca dan mengamati, seratus kali kau berfantasi dan berimajinasi, namun..hanya satu kali tulisan yang kan membuat segalanya abadi... menulis..adalah jalan agar kamu tak disingkirkan oleh sejarah!”

Dan saya juga menulis sebab saya tidak tahu apakah setelah membaca tulisan ini Anda mendengar kabar, Ahsanur Ahmad telah meninggal.  

 

Ditulis oleh: Ahsanur Ahmad, Lc

 

Terkait