Maafkan kami wahai Salahuddin (sebuah renungan yang akan membuatmu tak kuasa menahan tangis)

2 years ago Tausiyah

 

Suatu ketika saya merasa harus menyampaikan permohonan maaf kepada seorang pejuang besar dalam agama ini. Permohonan maaf yang mewakili diriku dan kaum muslimin..

Saya katakan padanya, "Maafkan kami wahai Salahuddin, Kami memohon maaf dengan ribuan maaf wahai Salahuddin sebab engkaulah dahulu yang mengusir kafir Eropa dari negeri Syam, Mesir dan Iraq. Engkaulah yang membebaskan Damaskus dan kota Al Quds dari tangan kotor mereka, lalu engkau ucapkan kata-katamu yang sangat terkenal "mereka tidak akan bisa kembali lagi memasuki kota ini selama kita masih menjadi laki-laki."

Maafkan kami wahai Salahuddin, maafkan kami dengan ribuan maaf wahai Salahuddin sebab mereka kini benar-benar telah kembali menguasai kami.Pertama kali saat telah usai perang dunia pertama ketika mereka memasuki Damaskus untuk pertama kali, pimpinan perang mereka berdiri di hadapan kuburmu dan mengatakan, "lihatlah wahai Salahuddin kami kini telah kembali."

Maafkan kami wahai Salahuddin, Maafkan kami dengan ribuan maafmu karena mereka telah kembali untuk kedua kalinya sebab kesalahan yang dilakukan oleh sebagian diantara kami, mereka masuk kembali ke negeri yang telah engkau bebaskan dan seolah mereka berkata wahai Salahuddin kami kini kembali lagi."

Agar engkau tidak terlalu khawatir kepada kami maka kukatakan padamu bahwa mereka beralasan bahwa kembalinya mereka ke Damaskus agar kami bisa merasakan kebebasan seperti kebebasan mereka dan kedamaian seperti kedamaian mereka kesenangan seperti kesenangan mereka.Saya tidak memintamu untuk bertanya kepada mereka apakah mereka benar-benar mewujudkan janji mereka dengan sarana yang sesuai atau atau malah melakukan hal yang sebaliknya.

Agar engkau tenang di alam sana maka jangan tanya apa yang telah mereka perbuat kepada kami. Sesungguhnya cara yang mereka lakukan kepada kami adalah pemiskinan, pengrusakan, penyesatan dan penghinaan.

Mereka memurtadkan kami dan tidak ada kejujuran di hati mereka.

Apa yang mereka lakukan kepada kami adalah seperti kaum Tatar saat menginvasi kaum muslimin dahulu, sedihnya karena sudah tidak ada lagi Saifuddin Qutuz.

Ini adalah agresi dari kaum kafir Eropa atas kami tanpa kehadiranmu membela kami.

Kami memohon maaf dengan ribuan maaf wahai Salahuddin, engkaulah dahulu yang senantiasa menampakkan tanda kesedihan dan kegelisahan di kedua keningmu.Tak ada tempat untuk senyuman, dan bibirmu tidak ditakdirkan untuk menyunggingkannya.Ketika engkau ditanya, "mengapa engkau susah tersenyum," maka jawabanmu yang sering engkau ulangi adalah, "Saya malu untuk tertawa dan tersenyum sedangkan Al Aqsha masih berada di tangan kaum penjajah."

Maafkan kami wahai Salahuddin, Kami memohon maaf dengan ribuan maaf wahai Salahuddin.Engkaulah yang suatu ketika mendengar kabar tentang seorang panglima kafir bernama Arnaat, penguasa benteng Kurk di Yordania. Dia menutup jalan bagi kaum muslimin yang hendak melaksanakan ibadah haji. Dia menghadang jamaah haji dari Syam menuju Hijaz (Mekah dan Madinah). Dia membunuh kaum lelaki dan menawan kaum wanita. Pemimpin pasukan kafir ini berkata,"Panggil Muhammad mu itu untuk menolongmu."

Ketika engkau mendengar berita ini engkau menangis dan menganak sungai air matamu lalu engkau katakan perkataanmu yang sangat terkenal itu,"Saya akan mewakili Rasulullah untuk menolong umatnya."

Inilah yang engkau lakukan, hatimu tidak pernah tenang, ruhmu tidak akan diam, jiwamu berontak, tidak berhenti bergerak badanmu hingga engkau penuhi janjimu itu pada perang Hittin. Pada perang yang engkau pimpin ini kaum muslimin menang atas raja-raja dan penguasa Eropa yang bersatu padu kurang lebih 27 negara untuk menghancurkanmu.

Saat Arnaat berlutut di dahadapanmu sebagai tawanan perang engkau berkata kepadanya, “Hei Arnaat, hari ini saya yang mewakili nabi Muhammad untuk menolong umatnya.”

Maafkan kami wahai Salahuddin, engkaulah yang dahulu kala setiap kembali dari perang Hitthin selalu engkau buka dan lepaskan jubah dan sorbanmu lalu engkau kibas-kibaskan agar debu dan kotoran yang menempel padanya berjatuhan setelah itu engkau kumpulkan ke dalam sebuah kantongan lalu engkau berwasiat kepada anak-anakmu agar kumpulan debu itu dikuburkan bersamamu. Engkau katakan kepada anakmu agar kumpulan debu yang telah berada dalam sebuah kantongan itu diletakkan di kepalamu menjadi bantal di kuburmu. Engkau berharap saat nanti dua malaikat mendatangimu sebagaimana mendatangi semua orang di kuburnya dan melihat kantongan berisi debu itu dia akan bertanya kantongan apa itu? Engkau pun menjawab bahwa isi kantongan itu adalah debu-debu yang menempel di pakaianku saat berjihad di jalan Allah.

Wahai Saad (Syaikh Nabulsy menahan tangisnya) Wahai Saad sampaikanlah kepada Khalid bahwa perjuangan di medan perang itu membutuhkan para pahlawan.

Maafkan kami wahai Salahuddin, engkaulah yang dahulu mengalahkan pasukan kafir Eropa sehingga namamu dijadikan alat untuk menakut nakuti anak-anak mereka yang tidak mau tidur di malam hari. Para ibu kaum kafir itu berkata kepada anak-anak mereka, “tidurlah wahai anakku, jika engkau tidak tidur maka akan datang Salahuddin.”

Engkau telah menanamkan rasa gentar dan takut dalam jiwa para musuh, engkau telah membuat siksaan batin di hati para penentang Allah.

Maka maafkanlah kami, kami memohon dengan beribu maaf atas apa yang menimpa kami hari ini setelah engkau tiada.

Agar ketokohanmu dan kebesaranmu sejalan dan tidak luntur maka biarlah kami mengakui segala kelemahan ini. Kami telah memandang remeh urusan Allah sehingga Allah pun meremehkan kami. Apa yang di prediksikan Al Quran benar-benar telah terjadi kepada kami  (Maryam 59)

“Lalu setelah mereka datanglah sekolompok kaum yang meremehkan shalatnya dan mengikuti hawa nafsunya lalu mereka memperoleh kesesatan dan kesengsaraan.”

Kami telah benar-benar mendapatkan kesengsaraan dan kesesatan itu.

Lalu agar engkau menjadi tenang di sana maka saya ingin sampaikan padamu hadis nabi yang disampaikan oleh penghulu kita Muawiyah bin Abi Sufyan, “akan senantiasa hadir dari umatku sekelompok umat yang senantiasa berdiri menegakkan agama Allah, mereka tidak akan terganggu oleh mereka yang mengingkarinya tidak juga mundur oleh mereka yang berbeda dengannya hingga akhirnya datang ketentuan Allah dan mereka tetap istiqamah.”

Malik bin Yukhamir yang menyampaikan hadis ini berkata bahwa orang yang dimaksud dalam hadis ini berada di negeri Syam. Muawiyah juga mengatakan, "dengarkanlah, yang dimaksud oleh Rasulullah dalam hadis ini adalah mereka yang ada di negeri Syam."

Wahai Salahuddin, pengawal setia dan penasihatmu pernah berkata bahwa engkau adalah orang yang khusyu hatinya, banyak menangis saat mendengarkan Al Quran atau membacanya. Engkau wahai Salahuddin sangat mengagungkan syiar-syiar agama. Engkaulah sang pembela tauhid, pemberantas bid’ah, tidak pernah engkau menunda salat dan kamu punya kebiasaan salat beberapa rakaat di tengah malam.

Engkaulah yang begitu mendengar bahwa musuh telah menyerang sebuah daerah kaum muslimin engkau sujud tersungkur ke tanah dan mengucapkan doa ini, “ya Allah segala usaha yang bisa kami lakukan di dunia untuk membela agamamu telah habis, dan tiada yang tersisa kecuali pertolonganmu yang datang dari langit, tidak ada yang bisa kami lakukan melainkan bersandar kepadamu, berpegang teguh kepada tali penyelamatmu dan mengandalkan karuniamu. Engkaulah sebaik-baik penolong dan pembela.

Saya berharap kepada seluruh umat Islam agar melihat, meyakini dan mempercayai bahwa umat Islam hari ini dan bangsa Arab khususnya sedang berada pada fase yang sangat memprihatinkan dan menyedihkan, kita berharap dibalik semua ini akan segera datang pertolongan, pertolongan yang tidak datang dari barat dan bukan juga dari timur tapi pertolongan yang datang dari atas, dari langit.

Umat hari ini berada pada penderitaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat Islam di zaman modern ini. Kita berharap penderitaan ini mengantarkan kita untuk semakin dekat dan mencintai Allah agar dengannya kita akan mendapatkan hak untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, kita layak menjadi pemegang peradaban selanjutnya.

Mari kita ucapkan doa yang pernah diucapkan oleh Salahuddin dahulu. Kita baca kembali doa ini saat dengan terang dan jelas tentara-tentara kafir menginvasi dunia Islam, “ya Allah segala usaha yang bisa kami lakukan di dunia untuk membela agamamu telah habis, dan tiada yang tersisa kecuali pertolonganmu yang datang dari langit, tidak ada yang bisa kami lakukan melainkan bersandar kepadamu, berpegang teguh kepada tali penyelamatmu dan mengandalkan karuniamu. Engkaulah sebaik-baik penolong dan pembela.”

 

Oleh Syekh Dr. Ratib Annabulsy

Diterjemahkan oleh: Ahsanur Ahmad

 

 

 

 

 

Terkait